Maling
Kandang
Pada
suatu hari, hiduplah seorang anak dan ibunya di tengah hutan yang tinggal di
gubuk reot mereka. Anak itu bernama Malin Kundang. Ia senang sekali mengambil
belalang untuk lauk pauk. Mereka hanya memakan singkong dan belalang yang
dibakar dengan tungku. Ketika Malin sudah besar, Malin ingin merantau ke luar
pulau. Malin meminta restu kepada ibunya. Ibunya memberi restu kepada Malin
dengan satu syarat jika Malin sudah sukses, ia harus kembali dan menemani
ibunya yang sudah tua.
Malin
menyetujuinya. Akhirnya setelah membawa bekal yang cukup, ia berangkat selama 1
bulan dengan kapal. Setelah sampai, ia segera mengirim surat kepada ibunya.
Segera Malin mencari sebuah tempat penginapan. Ia bertemu dengan seseorang
bernama Sinbad. Sinbad adalah orang kaya yang bekerja sebagai bisnis perkapalan
dan mempunyai punya banyak tempat penginapan.
Keesokan
harinya, Malin bolos kerja. Ia segera mempersiapkan diri untuk misinya itu.
Pada jam 11.59, ia sudah menunggu di tempat persembunyiannya. Ia terlambat. Ia
masuk untuk mencuri pada jam 12.01 karena kesalahan teknis. Jadi, ketika
mencuri ia terlambat dan ketahuan oleh penjaga rumahnya itu. Sang tuan rumah
langsung keluar. Malin ditangkap dan ditanyai oleh sang tuan rumah. Ketika
malin ditanya siapa yang menyuruhnya, ia langsung menjawab Sinbad (karena
gugup). Akhirnya, sang tuan rumah mengatakan, “Kembalilah lagi besok pagi
disini dengan baju yang paling bagus yang kamu punya. Besok paginya, Malin
menuruti perkataan pejabat kaya itu. Ternyata, sang pejabat itu menyuruh Malin
untuk menikahi putrinya. Telah disiapkannya pesta yang sangat megah, dengan
banyak makanan yang lezat,dan anggur terbaik yang pernah ada. Malin sangat
senang sekali. Juga karena, disana, ia dapat melihat ibunya yang begitu
dicintainya. Ada satu hal yang membuat Malin sedih. Ibunya tidak merestuinya.
Tapi Malin tetap menikahi wanita itu. Ibu Malin mencapai puncak emosinya. Ia
berdoa dan mengutuk malin. Setelah menikah, Malin mengajak istrinya untuk
berbulan madu di Paris. Tapi, di tengah perjalanan ke Paris, kapal mereka
dibajak oleh pembajak laut. Malin bersembunyi di dek kapal paling bawah. Malin
merasa aneh ketika berlari. Karena kaki dan seluruh badannya mulai menjadi
kaku. Ia lama lama berubah menjadi batu. Sampai sekarang, belum ditemukan
patung Malin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar